Tampilkan postingan dengan label utang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label utang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Maret 2014

4 Kebiasaan Buruk Keuangan Karyawan

 

4 Kebiasaan Buruk Keuangan Karyawan
Image by : Istimewa
Hai, para karyawan, waspadalah, karena rutinitas Anda menerima gaji setiap bulan, dan THR serta bonus setiap tahun, dapat menumbuhkan kebiasaan buruk di bidang keuangan.

Pasalnya, dikarenakan gaji, bonus dan THR datang dalam jangka waktu – dan jumlah – yang relatif stabil, membuat Anda dapat terlena dan akhirnya lalai dalam menjaga kondisi keuangan. Memang, sulit sekali dihindari cara berpikir, ‘Ah, bulan depan juga gajian lagi’, saat Anda mengambil sebuah atau beberapa keputusan keuangan. 

Tapi dengan mengenali kebiasaan buruk keuangan sebagai karyawan, diharapkan Anda ‘bangun’ dari tidur nyenyak keuangan Anda selama ini, dan mengambil langkah tepat guna untuk menghentikan sikap abai dan lalai tersebut.

Coba baca keras-keras: Karyawan itu...

...tidak mempersiapkan pensiun dengan baik. Setuju? Pasti setuju, karena kebanyakan karyawan mengandalkan perusahaan tempat dia bekerja untuk mengurus pensiun. Tapi tahukah Anda, bahwa gaji yang dipotong untuk dana pensiun Anda tersebut kebanyakan hanya akan menghasilkan dana yang tak seberapa banyak. Hal ini lebih berbahaya bila Anda seorang wanita, di mana wanita kebanyakan pensiun lebih cepat, dan hidup lebih lama dibanding pria. Lagipula, kebanyakan wanita mengandalkan urusan dana pensiun pada suami mereka. Pertanyaannya kembali ke soal pertama, yaitu cukupkah dana pensiun Anda kelak?

...menganggap kartu kredit itu uang tambahan. Saat karyawan menginginkan sesuatu barang, sebut saja tablet terbaru, tapi tidak punya uang, maka dia akan mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya untuk berbelanja. ‘Toh, bulan depan gajian, jadi bisa langsung dilunasi’, begitu pikir banyak karyawan. Tapi sejujurnya berapa banyak karyawan yang menepati pikirannya untuk langsung melunasi pembelian tersebut? Pasti sangat jauh lebih sedikit daripada yang menepati. Bayangkan kalau tiap bulan Anda memaksakan diri berbelanja, sampai tahu-tahu gaji, bonus dan THR tidak bisa melunasi tagihan kartu kredit. 

...kongkow di kafe atau resto untuk membangun network. Sungguhkah? Coba jawab dengan jujur, sungguhkah demikian? Kenyataannya tentu tidak. Berapa, sih, deal yang benar-benar terjadi dan menambah pundi-pundi uang Anda dari hasil kongkow. Karena pada kenyataannya kongkow tersebut lebih merupakan acara senang-senang di malam hari kerja bersama kolega dan teman alias... pemborosan. That’s it and admit it!

...kehilangan jejak pengeluaran uang. Coba Anda hitung sekali saja, berapa pengeluaran Anda dalam sehari: BBM untuk kendaraan –kalau Anda beli harian, biaya parkir, sarapan, ngopi, makan siang, break time sore hari, rokok, minuman ringan untuk iseng, dan sebagainya. Anda akan terkejut dengan jumlah uang yang Anda keluarkan untuk hal-hal yang kerap tidak dihitung dengan saksama. Sebab, kalau Anda mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya bisa dihindari untuk dikeluarkan, sebut saja Rp50 ribu per hari, dikalikan 24 hari kerja, jumlahnya cukup besar, dan menggiurkan untuk, misalnya, Anda investasikan di reksadana, bukan? (http://www.readersdigest.co.id/)

Sabtu, 15 Maret 2014

Perilaku Keuangan Anak = Perilaku Keuangan Orang Tua


Perilaku Keuangan Anak = Perilaku Keuangan Orang Tua
Image by : Istimewa
Anak-anak adalah cerminan orang tua. Dan hal tersebut tak terkecuali dengan perilaku keuangan anak.
Bagi anak-anak, mempelajari perilaku keuangan orang tua sangatlah mudah, karena hal tersebut yang setiap hari mereka lihat dan amati. Runyamnya, orang tua seringkali tidak menyadari bahwa perilaku keuangan tersebut dilihat dan diamati anak-anak mereka. 

Karena sering melihat dan mengamati, anak-anak kemudian meniru perilaku keuangan orang tua tersebut, karena menganggap bahwa itu adalah perilaku keuangan yang benar dan tepat. Maklum, anak-anak sangat memercayai perilaku orang tua.

Jadi, apa saja perilaku keuangan orangtua yang harus diwaspadai agar tidak menular kepada anak-anak Anda? Simak saja:

Mudah berutang. Entah berutang secara langsung kepada orang lain – seperti berutang di toko langganan, maupun menggunakan kartu kredit. Biasakan membayar secara tunai, dan bila terpaksa sekali harus berutang atau menggunakan kartu kredit, hendaknya saat anak-anak tidak di sekitar Anda. 

Menjadi pembeli impulsif. Coba pikir, pelajaran apa yang hendak Anda tanamkan pada anak, ketika Anda kerap membeli sesuatu secara impulsif, hanya karena tawaran diskon, atau karena Anda menyukai suatu barang yang sebetulnya tidak Anda butuhkan. Jadi jangan heran bila suatu saat anak akan merengek minta diajak ke big sale suatu mal.  

Pemboros ulung. Anak Anda selalu melihat Anda berbelanja, tanpa pernah melihat Anda sekalipun menabung. Seolah uang datang dengan mudah sehingga Anda juga mudah menghambur-hamburkannya dan memperoleh julukan pemboros ulung. Ajak anak Anda ke bank untuk menemani Anda menabung, atau setidaknya ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menyetor. Dengan demikian, mereka bisa belajar bahwa ATM atau bank bukan hanya tempat menarik uang, melainkan juga tempat menyetor uang untuk ditabung.  (http://www.readersdigest.co.id/)

Jumat, 14 Maret 2014

5 Cara Cerdas Redakan Stres Karena Utang

 

5 Cara Cerdas Redakan Stres Karena Utang
Image by : Istimewa
Kekhawatiran soal uang dapat memicu tekanan mental dan fisik. Utang – salah satu soal keuangan – ternyata memberikan dampak yang kurang baik pada kesehatan mental dan fisik.

“Utang adalah salah satu penyebab stres dalam hidup yang tidak dapat hilang begitu saja,” ujar Kelly McGonigal, psikolog kesehatan dari Stanford University. “Yang bahaya dari utang adalah betapa kronis dan menyerapnya hal itu, Kebanyakan penyebab stres dalam hidup – kecelakaan mobil, perceraian, kematian anggota keluarga – terjadi, kemudian selesai. Tubuh kita didesain untuk merespon keadaan darurat ini, lalu bangkit kembali. Sementara berutang uang dapat menyebabkan Anda berada di posisi tidak dapat keluar.”

Penelitian bahkan menunjukkan bahwa mereka yang memiliki utang, pada umumnya membutuhkan perawatan kesehatan yang lebih. “Utang tak hanya buruk untuk kesehatan secara keseluruhan: Jumlah yang Anda khawatirkan, tapi pada saat yang sama ada perasaan tak berdaya,” ujar Kelly. 

Namun kunci secara emosional, psikologis dan perilaku tentang bagaimana Anda mengambil keputusan finansial menunjukan ada cara yang sehat untuk mengatur dan menghabiskan uang. Yang ternyata juga mampu mengurangi secara signifikan rasa stres yang Anda alami. 

Mempunyai pemahaman yang benar tentang uang. Menurut David Krueger, seorang pelatih keuangan dan mantan psikiater di Houston, Texas, kebanyakan dari kita menggunakan uang“mengatakan” siapa kita. “Anda memberikan uang makna untuk diri Anda, dan menggunakan uangsetiap hari untuk menceritakan tentang diri Anda, misalnya soal kebebasan, kekuasaan, dan bukti kesuksesan atau sebagai jalan menuju kesempatan.” Identifikasikan hubungan Anda dengan uang, lalu gali lebih dalam apa saja nilai dari uang. Tanyakan kepada diri Anda: kenapa barang bermerek yang mahal begitu penting bagi imej saya? Mengapa memiliki uang sangat penting sampai-sampai saya harus bekerja sampai tengah malam? Hati-hati dengan jawaban Anda, dan tuliskan di selembar kertas jwaban tersebut. Hal ini akan membantu Anda memiliki pemikiran yang tepat tentang uang, di mana tahap awal adalah mengambil alih kembali kendali bagaimana Anda menghabiskannya. “Begitu pikiran Anda tepat, baru Anda dapat membuat sebuah rencana untuk menyelesaikan permasalahan,” tegas David. 

Mengenali bahwa utang menciptakan kebebasan semu. “Sebuah penelitian baru-baru ini menemukan bahwa orang yang stres justru ingin mengambil lebih banyak utang untuk merasa berkuasa,” ujar Kelly. Jadi, sekalipun Anda telah menghabiskan limit kartu kredit, misalnya, Anda bakal merasakan kebebasan ketika berhasil menaikan limit kartu kredit tersebut, atau justru mendapatkan kartu kredit baru. Ini berkaitan dengan persepsi jangka pendek dan jangka panjang. “Memang benar Anda menambah utang, namun anda justru merasa memiliki sumber daya yang tersedia untuk Anda, dan pemikiran itu melegakan beberapa orang,” kata Kelly. Hati-hati dengan ilusi jangka pendek ini, dan pertimbangkan biaya di jangka panjang ketika meningkatkan limit kartu kredit, menambah kartu baru, bahkan membeli sesuatu dengan kredit.

Ciptakan “otot pengendalian diri”. Roy Baumeister, seorang spikolog sosial di Florida State University, baru-baru ini mempelajari disiplin mental dengan menggelar penelitian dan menunjukan bahwa kita harus memiliki energi yang kuat untuk mengendalikan diri. Dengan kata lain, kemampuan Anda untuk menahan keinginan berbelanja lama kelamaan bisa kelelahan. Namun anda tetap bisa memberikan dorongan. “Catat semua pengeluaran harian dengan menuliskan semuanya, dan pikirkan benar-benar angka yang menjadi hasil akhir,” ujar Kelly. “dengan melakukan hal tersebut dapat secara efektif melatih, dan dengan demikian memperkuat otot pengendalian diri Anda.”

Jangan berbelanja saat sedang ‘down’. Sebuah penelitian yang dimuat pada Journal of Experimental Social Psychology, menunjukkan bahwa kita senang berbelanja barang-baranag yang dapat menaikkan status, dan membeli barang mahal dengan kredit, terutama saat ego kita terancam – hal ini bisa disebabkan berbagai hal, dari melihat berita buruk di teve, sampai tidak mendapatkan promosi dalam pekerjaan. “Penjelasan ekonomi – bahwa orang membeli barang-barang mahal karena ingin mendapatkan sinyal positif tentang diri mereka terhadap orang lain – masih belum lengkap,” ujar penulis penelitian tersebut, Niro Sivanathan, asisten profesor perilaku berorganisasi di London Business School. Walau demikian, penelitian Niro menunjukkan tindakan membeli tiket mahal adalah untuk membuat si pembeli merasa nyaman. Namun, penulis juga menemukan obatnya: Ketika partisipan merefleksikan nilai-nilai yang nmenurut mereka penting, seperti hubungan kekeluargaan, kesehatan, dan eksistensi diri, keinginan untuk membeli barang-barang bagus menurun.

Hati-hati dengan sikap masa bodoh. Istilah lain dari sikap ini adalah “violation response”, dan intinya ini adalah kecenderungan untuk berbelanja lebih banyak untuk membuat seseorang merasa lebih baik karena berutang. “Sebuah penelitian menunjukkan bahwa semakin Anda kewalahan, semakin anda merasa berbelanja dapat membuat perasaan lebih baik,” ujar Kelly. Tentu saja ini adalah lingkaran setan, karena penyesalan sesudah belanja menyebabkan stres. “Itu sebabnya sangat penting untuk memperhatikan respon Anda ketika Anda melakukan sesuatu yang tidak konsisten dengan tujuan keuangan Anda. Bila Anda lebih memperhatikan dorongan emosional, maka Anda akan dapat menahan diri untuk membelanjakan uang untuk sesuatu yang tidak Anda perlukan,” tegas Kelly. (Sumber: rd.com)

Selasa, 04 Maret 2014

Dana Darurat Mantap, Berkat Tekad Kuat

  

Dana Darurat Mantap, Berkat Tekad Kuat
Image by : Istimewa
Banyak orang belum menyadari pentingnya dana darurat dalam kehidupan. Padahal, dengan dana darurat Anda dapat terhindar dari kesulitan saat keadaan darurat menghadang. Sebut saja PHK massal, anggota keluarga sakit, dan sebagainya.

Bagi yang sudah menyadari, masalah belum berakhir. Pasalnya, banyak yang masih kesulitan dalam proses mengumpulkan dana darurat tersebut. Bahkan banyak yang menganggap dana darurat tak berbeda dengan uang yang mereka tabung selama ini. Padahal, itu dua hal yang berbeda. 

Simak tip berikut agar dana darurat yang diidam-idamkan dapat Anda kumpulkan segera.

Rekening khusus. Buka rekening tabungan yang khusus Anda gunakan untuk menyimpan dana darurat. Tujuannya agar tidak tercampur dengan tabungan untuk keperluan lain. Tak hanya membuka rekening, melainkan buka dan lupakan Anda punya rekening tersebut. Tapi tentunya tetap ingat harus diisi, yah. Tinggalkan pula kartu ATM agar tak tergoda mengunakannya.

Hitung pengeluaran. Ini adalah hal yang penting untuk Anda lakukan dengan jujur. Caranya, sengajakan untuk selalu mencatat seluruh pengeluaran, paling tidak selama tiga bulan. Dengan demikian Anda dapat menaksir berapa sebetulnya pengeluaran Anda dalam sebulan, dan itu dijadikan patokan jumlah yang Anda harus tabung sebagai dana darurat. Ingat, dana darurat dihitung dari jumlah pengeluaran Anda tiap bulan. Kalau Anda bujangan, kumpulkan dana darurat sebesar enam kali dari jumlah pengeluaran tiap bulan. Untuk yang sudah berkeluarga harus minimal 12 bulan. Semakin banyak anggota keluarga, semakin lama pula jangka waktu dana darurat harus bisa bertahan.

Kurangi pengeluaran. Banyak orang mengeluh pendapatan mereka tidak mencukupi untuk dapat mengumpulkan dana darurat. Sungguhkah demikian? Karena dalam banyak kasus, setelah dihitung, ternyata sumber kekurangan pendapatan justru karena pengeluaran yang tak terkendali, utamanya yang berkaitan dengan gaya hidup. 

Penghasilan tambahan. Setelah mengurangi pengeluaran, ternyata masih belum bisa menabung dana darurat? Kalau itu yang terjadi, artinya pendapatan Anda memang kurang besar. Untuk itu upayakan untuk memiliki penghasilan tambahan. Berbisnis pulsa elektronik, walau kelihatannya simpel, kalau volumenya banyak tentu hasilnya lumayan. Cari saja peluang-peluang usaha simpel yang tidak memerlukan modal terlampau banyak, lalu fokus.

Kumpulkan recehan. Coba perhatikan, berapa banyak uang recehan yang Anda bawa pulang di kantong celana atau baju? Kumpulkan dalam sebuah celengan. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Kalau sudah banyak, pindahkan ke tabungan dana darurat.