Anak-anak adalah cerminan orang tua. Dan hal tersebut tak terkecuali dengan perilaku keuangan anak.
Bagi anak-anak, mempelajari perilaku keuangan orang tua sangatlah mudah, karena hal tersebut yang setiap hari mereka lihat dan amati. Runyamnya, orang tua seringkali tidak menyadari bahwa perilaku keuangan tersebut dilihat dan diamati anak-anak mereka.
Karena sering melihat dan mengamati, anak-anak kemudian meniru perilaku keuangan orang tua tersebut, karena menganggap bahwa itu adalah perilaku keuangan yang benar dan tepat. Maklum, anak-anak sangat memercayai perilaku orang tua.
Jadi, apa saja perilaku keuangan orangtua yang harus diwaspadai agar tidak menular kepada anak-anak Anda? Simak saja:
Mudah berutang. Entah berutang secara langsung kepada orang lain – seperti berutang di toko langganan, maupun menggunakan kartu kredit. Biasakan membayar secara tunai, dan bila terpaksa sekali harus berutang atau menggunakan kartu kredit, hendaknya saat anak-anak tidak di sekitar Anda.
Menjadi pembeli impulsif. Coba pikir, pelajaran apa yang hendak Anda tanamkan pada anak, ketika Anda kerap membeli sesuatu secara impulsif, hanya karena tawaran diskon, atau karena Anda menyukai suatu barang yang sebetulnya tidak Anda butuhkan. Jadi jangan heran bila suatu saat anak akan merengek minta diajak ke big sale suatu mal.
Pemboros ulung. Anak Anda selalu melihat Anda berbelanja, tanpa pernah melihat Anda sekalipun menabung. Seolah uang datang dengan mudah sehingga Anda juga mudah menghambur-hamburkannya dan memperoleh julukan pemboros ulung. Ajak anak Anda ke bank untuk menemani Anda menabung, atau setidaknya ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menyetor. Dengan demikian, mereka bisa belajar bahwa ATM atau bank bukan hanya tempat menarik uang, melainkan juga tempat menyetor uang untuk ditabung. (http://www.readersdigest.co.id/)
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 15 Maret 2014
Kamis, 13 Maret 2014
Manajemen Amplop
Tiap orang pasti menginginkan peningkatan taraf hidup seiring pertambahan usia dan perkembangan karier. Tetapi bagaimana cara mengatur pengeluaran agar tidak besar pasak daripada tiang?
“Kalau gaji Anda di atas UMR dan keuangan Anda masih morat-marit, mungkin yang salah bukan penghasilan, tetapi pengeluaran Anda yang berhubungan dengan gaya hidup,” ungkap Aidil Akbar Madjid, perencana keuangan dan pakar ekonomi mikro dan keluarga. Terlebih lagi dengan berbagai fasilitas perbankan, terutama kartu debit atau ATM, otomatis kita lebih sulit mengontrol pengeluaran.
Oleh karena itu, menurut Aidil, perlu diterapkan cara konvensional untuk membenahi kondisi finansial, yaitu dengan menggunakan amplop. Anda hanya perlu membagi penghasilan untuk dimasukkan secara berurutan ke tiga amplop: merah, kuning dan hijau.
Pertama, masukkan 10-25% penghasilan bulanan ke amplop merah untuk investasi jangka panjang, yang dibagi lagi ke sejumlah pos, seperti dana pendidikan anak, pensiun dan membeli rumah atau mobil. Berikutnya, masukkan 20-30% gaji ke amplop kuning untuk pengeluaran tahunan, dengan pos-pos pembayaran pajak, asuransi dan simpanan dana darurat. Setelah kedua amplop tadi terisi, barulah Anda boleh mengisi amplop terakhir dengan sisa gaji. Amplop itu berwarna hijau dan diperuntukkan bagi pengeluaran yang bersifat bulanan, seperti transportasi, makan, minum dan cicilan.
Tetapkan jumlah uang untuk tiap pos dalam masing-masing amplop. Kalau ada kelebihan penggunaan di satu pos, kekurangannya harus diambil dari pos lain di amplop yang sama, sehingga Anda pun harus berhemat.
Meski memiliki tabungan di bank, amplop merupakan cara manual mendisiplinkan pengeluaran, apalagi yang bersifat bulanan. “Bulan pertama digunakan untuk mengecek kondisi finansial. Bulan-bulan berikutnya baru boleh menggunakan satu rekening untuk pengeluaran bulanan, dan satu lagi untuk pengeluaran tahunan,” jelas Aidil.
Berhubung hanya isi amplop hijau yang boleh dikeluarkan sehari-hari, percayalah, Anda akan lebih berhati-hati mengeluarkan uang untuk hal-hal yang menjadi keinginan, bukan kebutuhan. Soalnya, begitu jumlahnya menipis, Anda otomatis berpikir dua kali untuk mengeluarkannya. (http://www.readersdigest.co.id/)
Minggu, 09 Maret 2014
Belanja Hemat Bahan Makanan
Semakin hari, harga barang-barang semakin melonjak, termasuk harga bahan makanan. Sebelum Anda terhenyak melihat angka yang harus dibayar di kasir dan dengan berat hati merogoh kocek semakin dalam, simak panduan kami agar lebih hemat saat berbelanja bahan makanan.
Jauh-jauh Hari
Sudah bukan rahasia lagi jika menjelang hari raya harga kebutuhan barang pokok melonjak. Jadi, sebaiknya Anda berbelanja jauh hari sebelumnya. Mari berhitung sederhana: seminggu menjelang hari raya harga barang sudah naik 20 persen, dan Anda sudah belanja di bulan sebelumnya saat harga barang masih standar, berarti Anda sudah berhemat sebanyak 20 persen, bukan?
Rajin Mengecek
Sebelum berbelanja, rajinlah ”bergerilya” memeriksa iklan promo di koran atau selebaran supermarket dan bandingkan harganya. Anda bisa mendapatkan harga suatu bahan makanan lebih murah di satu toko, bahan makanan lainnya dengan harga miring di toko lain. Supermarket A mungkin memiliki promo daging murah, sementara supermarket B justru mendiskon telurnya. Intinya, rajin mengecek harga.
Kualitas Makanan Beku
Kesegaran makanan yang terjamin dan tahan lama juga berdampak pada pundi-pundi Anda. Bayangkan saja bila daging beku yang Anda beli untuk disimpan ternyata cepat busuk. Akibatnya, Anda harus merelakan diri merogok kocek lagi. Belilah makanan beku di pusat penjualan daging yang memiliki lemari pendingin canggih atau bereputasi baik, sehingga kualitas dan kesegarannya terjamin.
Patungan Berbelanja
Jangan dulu tertawa mendengar kata yang satu ini. Anda akan mengakui manfaatnya saat melihat ada tawaran potongan harga untuk porsi besar bahan makanan. Ajak teman-teman Anda berbelanja patungan untuk mendapatkan potongan harga.
Perhatikan Netto
Berencana memasak sop daging untuk hari raya? Bandingkan harga daging yang masih lengkap dengan daging yang tanpa tulang. Walaupun tampaknya lebih mahal, tapi daging tanpa tulang bisa jadi lebih menguntungkan, karena harga yang dihitung sudah merupakan harga netto. Ini berarti Anda mendapatkan daging yang lebih banyak.
Jeli Memilih
Pilihlah daging berkualitas bagus. Daging yang empuk dan cepat diolah akan menghemat energi. Ini berarti Anda dapat menyisihkan uang jatah membeli gas untuk keperluan lainnya. Jangan membeli daging yang alot, karena bahan bakar saat memasak juga pasti lebih boros. BandingkanJangan lupa bandingkan harga daging dalam bongkahan besar atau potongan lebih kecil. Daging dalam bongkahan besar bisa diolah dengan sayatan tipis yang dipanggang untuk sarapan atau pengganti sosis.
Ayam Utuh
Seringkali Anda mungkin tergoda membeli bagian-bagian ayam yang sudah siap dimasak, seperti kemasan isi paha atau kemasan isi dada. Namun bila ingin sedikit bersusah-susah dan berhemat, belilah sepotong utuh ayam. Dada dan paha ayam bisa diolah sebagai hidangan utama, dan bagian potongan lain dari ayam bisa dimanfaatkan untuk resep olahan pendamping. Tulang ayam pun bisa dibekukan untuk dimasak sop lain kali atau dibuat sebagai kaldu.
Ikan
Berbelanja ikan juga bisa menyiasati pundi-pundi, karena banyak pilihan ikan darat dengan harga lebih bersahabat dari daging atau ayam. Selain itu, Anda bisa memilih ikan segar dengan harga murah tanpa harus khawatir nilai gizinya kurang dari ikan yang mahal. Kuncinya, pastikan ikan dalam keadaan segar.
Perhatikan Tanggal
Kebanyakan supermarket akan menurunkan harga daging yang sudah mendekati tanggal kadaluarsa. Jadi, bila Anda berencana membuat olahan makanan dari daging untuk hari ini juga, tidak ada salahnya membeli daging yang didiskon tersebut. Dengan catatan, tentunya daging tidak disimpan lagi di dalam kulkas dan benar-benar harus dimasak hari ini juga.
Belanja Buah
Walaupun harga barang-barang kebutuhan pokok naik, tetapi tidak berlaku hukum yang sama pada buah-buahan. Jelilah memperhatikan musim. Jika ingin berbelanja buah, pilih buah yang sedang pada musimnya, atau justru pilh buah yang ada sepanjang tahun, seperti pisang, pepaya, dan semangka.
Alternatif Minyak
Bila dalam keluarga Anda tidak ada yang menderita kelebihan kolesterol, berbelanja minyak sayur atau sawit untuk memasak bisa dipertimbangkan karena harganya jauh lebih murah daripada minyak jagung atau minyak bunga matahari.
Berbelanja dengan cermat, membuat Anda sukses berhemat!
Selasa, 04 Maret 2014
Dana Darurat Mantap, Berkat Tekad Kuat
Image by : Istimewa
Bagi yang sudah menyadari, masalah belum berakhir. Pasalnya, banyak yang masih kesulitan dalam proses mengumpulkan dana darurat tersebut. Bahkan banyak yang menganggap dana darurat tak berbeda dengan uang yang mereka tabung selama ini. Padahal, itu dua hal yang berbeda.
Simak tip berikut agar dana darurat yang diidam-idamkan dapat Anda kumpulkan segera.
Rekening khusus. Buka rekening tabungan yang khusus Anda gunakan untuk menyimpan dana darurat. Tujuannya agar tidak tercampur dengan tabungan untuk keperluan lain. Tak hanya membuka rekening, melainkan buka dan lupakan Anda punya rekening tersebut. Tapi tentunya tetap ingat harus diisi, yah. Tinggalkan pula kartu ATM agar tak tergoda mengunakannya.
Hitung pengeluaran. Ini adalah hal yang penting untuk Anda lakukan dengan jujur. Caranya, sengajakan untuk selalu mencatat seluruh pengeluaran, paling tidak selama tiga bulan. Dengan demikian Anda dapat menaksir berapa sebetulnya pengeluaran Anda dalam sebulan, dan itu dijadikan patokan jumlah yang Anda harus tabung sebagai dana darurat. Ingat, dana darurat dihitung dari jumlah pengeluaran Anda tiap bulan. Kalau Anda bujangan, kumpulkan dana darurat sebesar enam kali dari jumlah pengeluaran tiap bulan. Untuk yang sudah berkeluarga harus minimal 12 bulan. Semakin banyak anggota keluarga, semakin lama pula jangka waktu dana darurat harus bisa bertahan.
Kurangi pengeluaran. Banyak orang mengeluh pendapatan mereka tidak mencukupi untuk dapat mengumpulkan dana darurat. Sungguhkah demikian? Karena dalam banyak kasus, setelah dihitung, ternyata sumber kekurangan pendapatan justru karena pengeluaran yang tak terkendali, utamanya yang berkaitan dengan gaya hidup.
Penghasilan tambahan. Setelah mengurangi pengeluaran, ternyata masih belum bisa menabung dana darurat? Kalau itu yang terjadi, artinya pendapatan Anda memang kurang besar. Untuk itu upayakan untuk memiliki penghasilan tambahan. Berbisnis pulsa elektronik, walau kelihatannya simpel, kalau volumenya banyak tentu hasilnya lumayan. Cari saja peluang-peluang usaha simpel yang tidak memerlukan modal terlampau banyak, lalu fokus.
Kumpulkan recehan. Coba perhatikan, berapa banyak uang recehan yang Anda bawa pulang di kantong celana atau baju? Kumpulkan dalam sebuah celengan. Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit. Kalau sudah banyak, pindahkan ke tabungan dana darurat.
Langganan:
Postingan (Atom)