Rabu, 19 Maret 2014
Pengumuman Kandidat Pengurus KopKar BSM
Alhamdulillah...calon kandidat ketua KopKar Sahabat Kite, yaitu Bapak Meidy Ferdiansyah lolos seleksi administratif, sehingga ada 3 kandidat ketua KopKar yang akan bersaing...
Menyongsong hari pemilihan pengurus KopKar yang baru pada tanggal 28 Maret 2014 ini, mohon doa dan dukungan sahabat semua agar Bapak Meidy dapat meneruskan perjuangan KopKar BSM menjadi lebih baik dan lebih baik lagi...aamiin...
Vote for MEIDY - Muda Enerjik Inovatif Dinamis Yakin deh :)
Selasa, 18 Maret 2014
Struktur Organisasi-nya Seperti Apa Ya ?
Struktur organisasi merupakan salah satu bentuk manajemen organisasi yang baik. Kopkar BSM Sahabat Kite punya struktur organisasi seperti ini nih :
Menurut Sahabat KopKar BSM bagaimana ? jika ada usulan yang lebih baik kami siap menampung idenya :)
Menurut Sahabat KopKar BSM bagaimana ? jika ada usulan yang lebih baik kami siap menampung idenya :)
VISI dan MISI kami
VISI
Menjadi Mitra Amanah Menuju Sejahtera
MISI
- Memberikan layanan secara profesional dan ersahabat.
- Mengembangkan usaha kreatif yang menguntungkan untuk kesejahteraan anggota dan mitra.
- Membangun kerjasama usaha dan pemberdayaan masyarakat yang berkesinambungan.
Program Unggulan Sahabat Kite
KopKar BSM Sahabat Kite mempunyai program kerja yang insya Alloh membawa kebaikan untuk anggota KopKar khususnya, dan BSM umumnya. Ada 5 (lima) bidang yang menjadi perhatian KopKar BSM Sahabat Kite, yaitu :
1. Perbaikan Infrastruktur
a. Sumber Daya Manusia:
•Meningkatkan kompetensi SDM tenaga alih daya dengan melakukan
training regular.
•Menambah dan meningkatkan kompetensi
tenaga koperasi dengan menerapkan standar layanan untuk mempermudah akses
layanan koperasi
b. Sistem:
•Membangun sistem monitoring proses
pembiayaan.
•Membangun sistem Portal yang dapat di akses oleh seluruh anggota koperasi.
Isi portal antara lain mencakup informasi anggota termasuk jumlah simpanan,
informasi pembiayaan, SHU, kepengurusan,pemesanan barang online, pendaftaran
keanggotaan online, contact person.
c. Prosedur:
•Adanya laporan keuangan yang dapat diakses
oleh seluruh anggota secara periodik.
•Adanya sistem four eyes dan dual control dalam memproses pembiayaan
dan menangani jaminan pembiayaan
pegawai.
2. Pengembangan bisnis
a. Pendanaan:
•Penghimpunan dana dari anggota.
•Aliansi modal dengan pihak ketiga (non
anggota).
b. Penyaluran pembiayaan:
•Melanjutkan pengelolaan bisnis eksisting
secara profesional
•Membuka usaha kreatif untuk meningkatkan
bisnis (mis: Baby Day Care, rental mobil, jasa catering, dsb)
3. Penyelenggaraan rapat pengurus rutin dan pengajian anggota rutin
4. Penyelenggaraaan Paparan Publik (6 bulan sekali) dan RAT (tahunan)
5. Pembuatan Business
Plan
Program-program tersebut terangkum dalam kata SAHABAT, seperti dalam gambar diatas.
Dukung program kerja kami untuk KopKar BSM yang jauh lebih baik
Minggu, 16 Maret 2014
4 Kebiasaan Buruk Keuangan Karyawan
Image by : Istimewa
Pasalnya, dikarenakan gaji, bonus dan THR datang dalam jangka waktu – dan jumlah – yang relatif stabil, membuat Anda dapat terlena dan akhirnya lalai dalam menjaga kondisi keuangan. Memang, sulit sekali dihindari cara berpikir, ‘Ah, bulan depan juga gajian lagi’, saat Anda mengambil sebuah atau beberapa keputusan keuangan.
Tapi dengan mengenali kebiasaan buruk keuangan sebagai karyawan, diharapkan Anda ‘bangun’ dari tidur nyenyak keuangan Anda selama ini, dan mengambil langkah tepat guna untuk menghentikan sikap abai dan lalai tersebut.
Coba baca keras-keras: Karyawan itu...
...tidak mempersiapkan pensiun dengan baik. Setuju? Pasti setuju, karena kebanyakan karyawan mengandalkan perusahaan tempat dia bekerja untuk mengurus pensiun. Tapi tahukah Anda, bahwa gaji yang dipotong untuk dana pensiun Anda tersebut kebanyakan hanya akan menghasilkan dana yang tak seberapa banyak. Hal ini lebih berbahaya bila Anda seorang wanita, di mana wanita kebanyakan pensiun lebih cepat, dan hidup lebih lama dibanding pria. Lagipula, kebanyakan wanita mengandalkan urusan dana pensiun pada suami mereka. Pertanyaannya kembali ke soal pertama, yaitu cukupkah dana pensiun Anda kelak?
...menganggap kartu kredit itu uang tambahan. Saat karyawan menginginkan sesuatu barang, sebut saja tablet terbaru, tapi tidak punya uang, maka dia akan mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya untuk berbelanja. ‘Toh, bulan depan gajian, jadi bisa langsung dilunasi’, begitu pikir banyak karyawan. Tapi sejujurnya berapa banyak karyawan yang menepati pikirannya untuk langsung melunasi pembelian tersebut? Pasti sangat jauh lebih sedikit daripada yang menepati. Bayangkan kalau tiap bulan Anda memaksakan diri berbelanja, sampai tahu-tahu gaji, bonus dan THR tidak bisa melunasi tagihan kartu kredit.
...kongkow di kafe atau resto untuk membangun network. Sungguhkah? Coba jawab dengan jujur, sungguhkah demikian? Kenyataannya tentu tidak. Berapa, sih, deal yang benar-benar terjadi dan menambah pundi-pundi uang Anda dari hasil kongkow. Karena pada kenyataannya kongkow tersebut lebih merupakan acara senang-senang di malam hari kerja bersama kolega dan teman alias... pemborosan. That’s it and admit it!
...kehilangan jejak pengeluaran uang. Coba Anda hitung sekali saja, berapa pengeluaran Anda dalam sehari: BBM untuk kendaraan –kalau Anda beli harian, biaya parkir, sarapan, ngopi, makan siang, break time sore hari, rokok, minuman ringan untuk iseng, dan sebagainya. Anda akan terkejut dengan jumlah uang yang Anda keluarkan untuk hal-hal yang kerap tidak dihitung dengan saksama. Sebab, kalau Anda mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebetulnya bisa dihindari untuk dikeluarkan, sebut saja Rp50 ribu per hari, dikalikan 24 hari kerja, jumlahnya cukup besar, dan menggiurkan untuk, misalnya, Anda investasikan di reksadana, bukan? (http://www.readersdigest.co.id/)
Sabtu, 15 Maret 2014
Perilaku Keuangan Anak = Perilaku Keuangan Orang Tua
Image by : Istimewa
Bagi anak-anak, mempelajari perilaku keuangan orang tua sangatlah mudah, karena hal tersebut yang setiap hari mereka lihat dan amati. Runyamnya, orang tua seringkali tidak menyadari bahwa perilaku keuangan tersebut dilihat dan diamati anak-anak mereka.
Karena sering melihat dan mengamati, anak-anak kemudian meniru perilaku keuangan orang tua tersebut, karena menganggap bahwa itu adalah perilaku keuangan yang benar dan tepat. Maklum, anak-anak sangat memercayai perilaku orang tua.
Jadi, apa saja perilaku keuangan orangtua yang harus diwaspadai agar tidak menular kepada anak-anak Anda? Simak saja:
Mudah berutang. Entah berutang secara langsung kepada orang lain – seperti berutang di toko langganan, maupun menggunakan kartu kredit. Biasakan membayar secara tunai, dan bila terpaksa sekali harus berutang atau menggunakan kartu kredit, hendaknya saat anak-anak tidak di sekitar Anda.
Menjadi pembeli impulsif. Coba pikir, pelajaran apa yang hendak Anda tanamkan pada anak, ketika Anda kerap membeli sesuatu secara impulsif, hanya karena tawaran diskon, atau karena Anda menyukai suatu barang yang sebetulnya tidak Anda butuhkan. Jadi jangan heran bila suatu saat anak akan merengek minta diajak ke big sale suatu mal.
Pemboros ulung. Anak Anda selalu melihat Anda berbelanja, tanpa pernah melihat Anda sekalipun menabung. Seolah uang datang dengan mudah sehingga Anda juga mudah menghambur-hamburkannya dan memperoleh julukan pemboros ulung. Ajak anak Anda ke bank untuk menemani Anda menabung, atau setidaknya ke anjungan tunai mandiri (ATM) untuk menyetor. Dengan demikian, mereka bisa belajar bahwa ATM atau bank bukan hanya tempat menarik uang, melainkan juga tempat menyetor uang untuk ditabung. (http://www.readersdigest.co.id/)
Langganan:
Postingan (Atom)



